03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Kak Saaochi, selaku mentor guild spy menatap cemas ke arah layar hologram di depan nya, di mana layar itu menampilkan kondisi para murid kami sedang melakukan latihan nya. "Bagaimana ini? Kita harus melaporkan nya pada ketua!" Ujar kak Saaochi. Atensi kak Luisa, salah satu mentor guild spy ikut teralihkan mantap lekat ke arah layar hologram itu.
"Kenapa??? Apa yang terjadi?? Jangan bilang ada yang mati??" Kaget, Kak Luisa menutup mulut nya dengan dramatis sembari memperhatikan posisi anak anak sudah tak beraturan lagi.
"Aishh, mulut mu kak" ujar ku, aku kini memperhatikan layar tersebut, memang benar kalau para murid kini berada di ujung tanduk,mereka setidaknya membutuhkan bantuan dari kami. "Mereka sepertinya benar benar sudah tak dapat mengatasi nya lagi deh" aku mengunyah santai coklat ku sembari berpikir.
Satu ide terlintas di kepala ku, dengan gerakan tiba tiba aku menggebrak meja, membuat kopi Bastian tumpah karena nya. "Aku tahu!" Seru ku, "Kau tahu apa???" Jawab Kaynel, dia memangku dagu, nya memandang lesu ke arah ku.
"Mari kita tolong mereka!!" Aku berbinar mengatakan nya.
"Apa sekarang waktu nya aksi pahlawan kesiangan?? Biarkan saja mereka, itu adalah latihan agar mereka semakin kuat" ujar om Bastian. Ia berdiri dari tempat nya lalu pergi menyeduh kopi yang baru.
"Astaga om, dulu kan murid murid itu juga kita yang selamatin, kenapa sekarang kita tidak selamatkan mereka lagi?? Meski mereka datang kesini untuk menjadi kuat, kita harus tetap membantu mereka ketika lagi berada di dalam masalah. Lagian kita juga mentor mereka kan?" Ujar ku panjang lebar.
Kak Saaochi menyambut pernyataan ku. "Benar. Lagipula keadaannya sudah cukup darurat. Sudah banyak murid yang pingsan dan terluka. Mereka juga pasti kelelahan setelah menghadapi tiga monster sekaligus. Kita tidak bisa mengabaikan hal ini." Ia sejenak menatap om Bastian dengan serius, lalu kembali fokus ke arah layar hologram.
Kaynel berdiri dari duduk nya dengan bersemangat "kalau begitu, mari kita bantu mereka!!" Aku mengangguk menyetujui nya lalu dengan cepat menghabiskan coklat ku.
"Aku mengikuti keputusan kalian saja. Tapi Jangan lupa, kita harus meminta izin ke ketua" ujar Kak Luisa.
"Benar juga. Kalau begitu, ayo ke ruangan pak Rhino!" Ujar ku bersemangat.
Tak berselang lama, kamu berlima kini berada di depan ruangan ketua, founder dianxy ya itu pak Rhino. Kami mengetuk pelan pintu kantor nya, pintu langsung terbuka, menampilkan sosok pak Rhino yang sedang duduk di meja kerja nya. Ia mempersilahkan kami masuk ke kantor nya, menyambut kami dengan senyuman nya "ada apa?"
Kami saling memandang satu sama lain, memberi kode siapa yang akan memberitahukan niat kami ke pak Rhino.
"Yang mau ngasih tau siapa?? Aku GK mau lah" ujar ku.
"Kau lah sana" ujar Kayn, sebelum adu mulut kami semakin berlanjut, kak Saaochi lebih dulu menghentikan kami.
"Udh kalian berdua, biar saya yang bicara" ia maju melewati ku lalu membuka suara "Mohon maaf atas kelancangan kami, Ketua. Tapi, saya rasa para murid sudah mencapai batasnya. Jadi, sebagai mentor mereka, kami memohon izin kepada Ketua, untuk membiarkan kami turut serta membantu mereka keluar dari dungeon."
"Hm, kenapa?" Tanya pak Rhino.
"Takut nya mereka keburu jadi mayat pak" bisik Kayn, kak Luisa yang mendengar itu mengangguk menyetujui nya, bukan hanya kak Luisa yang mendengar nya tapi kami juga mendengar nya. Karena hal itu kayn mendapatkan hadiah dari kak Saaochi.
"Heh, lagi serius juga" seru kak Saaochi, Bastian yang melihat hal ini mengambil alih percakapan "kami merasa jika para murid sudah mencapai batas mereka, jika di izinkan kami akan turut membantu Mereka".
Mendengar perkataan Bastian, Rhino seketika terdiam mendengar nya. "Kalian tau kan, maksud perkataan itu?"
Kami berlima serentak mengangguk, memahami maksud dari perkataan pak Rhino. Setelah itu, ia menjentikkan jari. Tentakel tiba tiba muncul ntah dari mana mulai menjerat kaki kami. "Silahkan" setelah pak Rhino mengatakan itu dalam sekejap tubuh kami berpindah ke dalam gua.
"Err... Kita spawn Dimana??? Ini gelap banget lagi" ujar Kayn.
"Aduhh, gelap banget, senter mana senter" kak Luisa mencoba merabah dinding gua yang kering, ia kemudian menyeringai "hehehe... Aku merasakan sesuatu yang kuat..."
Bastian yang melihat itu menatap Luisa dengan pandangan menyedihkan "manusia gila"
"Nah, senter!!" Kayn yang mendapatkan 2 buah senter langsung melemparkan salah satu nya pada ku dan satu lagi ke arah bastian.
Aku menyalakan senter tersebut, senter ini benar benar membantu karena pencahayaan nya yang ia jangkau sangat luas "wah... Terang banget ini mah, keren juga ada senter kayak gini" aku kagum melihat senter yang sekeren ini.
"Oy, cepat jalan! Keburu is DED mereka" kak Saaochi mendahului ku, ia jalan lebih cepat dan tergesa gesa. "Iya kak iya, galak bener dah" aku mengekori nya, di samping ku ada kak Luisa yang tak berhenti senyum senyum seperti orang gila.
"Biar aku yang mencari jalan" dalam sekejap, Bastian sudah bilang dari pandangan kami. Aku menatap nya keren, bisa pergi secepat itu "wuishh, dia pergi nya cepat juga"
Tak berselang lama, kami telah sampai ke tempat nya, Bastian memberitahukan kalau monster itu berada di balik dinding gua itu. Aku melemaskan otot tangan ku dan menyuruh mereka menyingkir "awas awas, ini waktu nya naren beraksi" ku fokus kan seluruh kekuatan ku di tangan lalu ku tinju Diding itu. Kini gua itu mulai bergetar, terdengar suara retak di bawah kami, tanpa waktu lama tanah yang kami pijak mulai runtuh dan menjatuhkan kami.
"Itu, mentor kan??" Ujar salah satu murid yang melihat kami terjatuh tepat di atas kepala monster berkepala 2 itu, kami berempat secara reflek turun dengan tangkas dari kepala monster. Bastian yang turun dengan pelan dan aman dengan memasang ekspresi tanpa dosa nya.
"Naren??" Regina, salah satu murid ku yang melihat ku kini ku datangi. "Regi!! Kau baik baik saja???" Regina mengangguk, kami kemudian mulai menyerang monster itu.
"Mentor!!! Tangkap!!" Amarine memberikan ku sebuah cermin. "Arahkan cermin itu ke arah mata monster nya mentor!!!" Aku mengangguk mengerti, namun sayang aku salah paham dengan 'arahkan' yang dia maksud. Aku melempar nya mengenai mata monster itu.
"Mentor!!! Kami bilang arahkan!! Kenapa mentor malah melempar nya!!" Seru Amarine, sweetdrop dengan apa yang baru saja ku lakukan.
"Owhh, arahin itu yah, saya kira arahin lempar hehe" aku nyengir membalasnya. Fokus kami kini telah kembali ke monster itu, monster itu benar benar tangguh. Ia tetap melayangkan semua serangan dengan brutal kepada anak anak.
"Nana!!!! Hancurkan armon nya, kelemahan nya berada di jantung Nya!!!" Teriak Kayn, aku mengangguk mengerti, mencari batu yang lumayan besar dan melempar ke arah armor nya. Nice! Tepat sasaran, armor nya rusak memudahkan kami untuk menusuk nya jantung nya.
Kami tak ambil lama, aku mengisyaratkan kepada regina untuk melempar nya lalu menusuk dada nya, Qixuan kini sudah mulai lebih dulu pergi arah dada monster itu, setelah lengah mereka berdua menusuk jantung nya. Monster itu berteriak kesakitan dalam sekejap tubuh monster itu diam kaku. Kami semua bersorak ria karena berhasil menewaskan nya.
Aku mendatangi kedua murid ku itu "kalian berdua, benar benar keren!!! Kerja bagus semuanya!!!" Aku memberi kan mereka jempol karena usaha nya, bercak darah dari monster itu masih melekat di muka mereka.
Setelah semua itu, Muncul sebuah portal berwarna biru tua yang akan menjadi pintu keluar mereka dari dungeon ini. Semua murid berjalan tertatih untuk memasuki portal tersebut. Kami pulang dengan aman, walaupun ada beberapa di antara mereka yang terluka dengan berat.