03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
‘Last Boss In Dungeon?!’
Setelah mengalahkan Cerberus, Naga api, dan Manticore. Para siswa melanjutkan perjalanan mereka untuk menelusuri Gua tersebut. Hari mulai berganti Malam. Mereka mencoba menghubungi para Mentor dengan akses jam tangan mereka.
Namun sayangnya, tidak ada satupun Mentor yang menjawab panggilan. Beberapa dari mereka mulai berputus asa dan berpikir bahwa DianXy hanyalah menumbalkan mereka dan akan membunuh mereka hidup-hidup di dalam Gua tersebut.
“Agh! Kenapa para Mentor seperti sengaja meninggalkan kita di Gua ini?!” keluh seorang murid.
“Tenanglah. Aku yakin para Mentor hanyalah menguji ketahanan kita. Pasti mereka tahu apa yang terbaik.”
Perjalanan mereka yang agak panjang, membuat mereka mengobrol untuk meredakan rasa takut dan kegelisahan mereka.
Lou: “Huwaa! Aku benar-benar pengen keluar dari Gua ini!!” rengeknya.
Lumiere: “Bukan hanya kau saja. Kita juga pengen cepat-cepat keluar dari Gua mengerikan ini.” Jawab Lumiere.
Lou: “Apa kau bilang. ‘Mengerikan’?”
Lumiere: “Kau ini sudah dengar kenapa nanya lagi?!”
Lou: “Hahaha! Aww, sang kesucian pemberani sepertimu ternyata bisa ngeri sama Gua doang!” ledeknya.
Lumiere: “Jujur saja, Gua ini rasanya seperti neraka! Selain panas dan gelap, Gua ini juga menyimpan banyak bintik dosa di dalamnya.” Ucap Lumiere sambil mengelus kedua lengannya.
Lou: “Yah. Monster di sini memang terlihat seperti makhluk neraka bagiku.”
Lumiere: “Benar, kan?”
*RAUGHHH!!!
“Apa yang-?!”
Obrolan mereka berakhir karena terdengar suara yang begitu kuat dari balik pintu raksasa yang terukir dengan simbol-simbol kuno. Para siswa langsung berjaga-jaga dan membuat posisi pertahanan.
Jiwa takut mereka semakin gentar saat pintu itu terbuka dan mengeluarkan aura membunuh yang sangat mencekam. Beberapa dari mereka mulai runtuh pertahanan mentalnya. Dan sebagian memasang posisi berjaga.
“Jangan menyerah, kita masih harus hidup!”
Meski begitu, hati mereka telah bergetar begitu kuat. Rasa tidak yakin dan putus asa melekat di jiwa mereka.
“Maksudku, bagaimana kita harus membunuhnya?!”

?!!
Tanah bergetar ketika pintu itu terbuka bahkan membuat bebatuan berjatuhan dari atap gua. Dari dalam sana muncullah makhluk mengerikan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Aura membunuh yang sangat amat kental membuat jiwa mereka gentar. Manik merah itu menyipit, menatap penuh kemarahan dan membunuh. Sedangkan manik hijau itu menatap para murid. Ia berpikir bahwa mereka adalah santapan terlezat yang akan ia makan.
Makhluk berkepala dua satu badan itu tampaknya memiliki dua pemikiran yang berbeda. Dengan ukuran makhluk yang besarnya tak main-main itu, bagaikan para murid hanya sebatas semut kecil dalam pandangannya.
Suara kemarahan dari makhluk tersebut membuat satu Dungeon bergetar.
Lumiere: “M-makhluk apa itu?! Tidak pernah terpikiran olehku sebelumnya!”
Lou: “MAKHLUKNYA SERAM! TAPI KOK GANTENG, YAH?”
Qixuan: “Tetap fokus! Jangan ada yang terluka. Kita bisa melakukan ini bersama!!” tegas Qixuan.
“Bagaimana caranya kita mengalahkan makhluk itu?! Energi kita kan sudah habis?!” ucap seorang murid tak yakin.
Lumiere: “Kita bisa mengalahkannya, dengan bersama-sama!”
Unknown 2: "WAH WAH~ LIHATLAH SIAPA MAKHLUK RENDAHAN YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI SINI?!" Ujar salah satu kepala dari makhluk tersebut.
Lumiere: “Sombong sekali! Beraninya dia bilang aku makhluk rendahan!! Aku ini sang Kesucian yang agung!!”
Lou: “Diamlah! Kami semua sudah tahu, kok!”
Unknown 1: “Apa yang kalian lakukan di sini para makhluk lemah?! Berani-beraninya menginjakan kaki di wilayah ku!”
Lumiere: “Wilayah mu butuh petugas kebersihan karena terlalu tertumpuk dengan bintik-bintik dosa!!” ledeknya.
Unknown 2: “JAGA BICARAMU MAKHLUK KECIL DAN RENDAHAN!!”
Monster itu mulai melayangkan tangannya ke arah Lumiere karena tersinggung dengan perkataannya.
Untungnya Lumiere sempat menghindar dari serangan tersebut.
Lumiere: “Makhluk ini lebih ganas dari makhluk lainnya!”
Qixuan: “Berjaga-jagalah semua! Aku merasakan bahwa aura membunuh monster ini lebih kuat dari monster lainnya!!” Ingatnya.
Unknown 2 menatap para murid dengan pupil ularnya. Ingin berniat mengubah mereka menjadi batu dengan pandangannya.
"HANCURLAH KALIAN! HAHAHA!!!"
Lumiere: “Buang pandangan kalian dari mata makhluk itu!!”
Para siswa berusaha untuk tidak memandang ke arah pupil mata monster tersebut sambil melontarkan serangan dari arah yang lain.
Monster tersebut mulai geram dengan tanggapan para murid. Para murid yang menatap mata dari pupil monster tersebut segera berubah menjadi batu. Bahkan tanpa mengalihkan tubuhnya dari tempat asalnya, ia membuat para murid yang telah berubah menjadi batu itu menyerang satu sama lain.
Lumiere bergegas mengambil posisi untuk menyerang balik serangan monster itu. Ia mulai mengepakkan sayapnya dan terbang ke arah belakang monster.
Dengan sekejap, cahaya berbentuk panah dan anak panah sudah berada di tangan Lumiere. Ia segera menargetkan panah ke arah belakang monster dan mendaratkan anak panah tepat pada sasarannya.
‘ LUIROWSSS!! ‘
*SWING!!!
*RAUGHHH!!
Lumiere: “Makanlah itu! Makhluk dosa!!” Ia dengan bertubi-tubi mendaratkan anak panah ke tubuh monster itu. Diikuti dengan ledekannya.
Monster itu menanggapi Lumiere dengan melayangkan cakaran tangan dan ekornya ke arah Lumiere. Para murid di bawah ikut menyerang monster sementara Lumiere berusaha mengalihkan pandangan monster tersebut.
“Serang!! Kita pasti bisa!!!”
Dengan sisa energi yang mereka punya. Mereka bekerja sama melawan monster itu. Monster itu mulai geram dan sangat marah dengan para murid.
Unknown 1 mulai mengangkat tangannya dan menerbangkan batu yang berada di dalam ruangan Dungeon itu. Ia membuat batu itu menjadi runcing dan mengarahkannya ke arah para murid.
"MELEBURLAH DENGAN BUMI KALIAN SEMUA YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI SINI!!!"
*WOOSH!!!
“BERLINDUNG!!”
Lumiere mengepakkan sayapnya dan terbang lebih tinggi untuk menghindari serangan monster itu.
Unknown 1: “KAU MAKHLUK KECIL RENDAHAN! HANYA KARENA KAU BISA TERBANG, BUKAN BERARTI KAU BISA MENGHINDAR DARIKU!!”
Ucap lantang monster itu sambil mengarahkan batu runcing ke arah Lumiere.
Lumiere segera menghindar. Namun sayang, energinya sudah banyak terkuras sejak melawan monster pertama di Dungeon. Pandangannya semakin tidak terkontrol dan hampir terjatuh.
Beberapa ujung runcing dari batu tersebut mengenai sayap Lumiere. Menyebabkan ia tak terkendalikan dan terjatuh ke dasar tanah.
*BUGG!!!
Lumiere: “ADUH!!”

!!
Lou: “LUMIERE!!” panik Lou.
Monster tersebut mulai mengganas dan kembali melakukan penyerangan yang berbeda.
Unknown 2: "UNKNOWN 1 ARAHKAN SIHIRNYA KEMBALI!!! AKU AKAN MEMBUAT MEREKA MENJADI BATU!” Perintahnya.
Monster itu membuat rune sihir yang mengitari lantai aktif. Perlahan kaki para murid mulai menjadi batu.
Monster itu mengamuk. Menyerang para murid dengan brutal.
Bebatuan runcing diarahkan pada mereka semua. Tanah berguncang hebat bagai terjadi gempa, stalaktit berjatuhan dari atas goa.
Para murid yang terkena serangan dengan cepat mengalami luka besar. Ditambah yang saat ini berubah menjadi batu. Perlahan menyerang tanpa ampun.
Unknown 1 memperluas domain miliknya. Secara perlahan, kaki para murid mulai cedera.
"MATILAH KALIAN MATI!!"
Unknown 1: “Kalian akan menyesal karena telah datang ke sini!”
Lumiere: “Tidak! Jangan sampai kalah. Masih bisa bertahan!!”
Lumiere mulai beranjak dari kesakitannya. Ia masih berniat untuk melawan balik monster itu. Namun pandangannya teralihkan ketika melihat seorang murid yang telah menjadi batu.
Lumiere: “Sial!
Aku gak bisa mengalahkan rasa takut ku. Perasaan apa ini?! Sebelumnya aku gak
pernah merasakan takut sebelumnya?!”
“LUMIERE!!”
Lou: “Lumiere!! Kau tidak apa-apa?! Sayapmu, terluka!”
Lumiere: “Aku tidak apa-apa. Lagipula mengapa kau bisa di sini?! Cepat serang monster itu!!”
Lou: “Kau diam aja di sini! Sayapmu mengalami cedera yang cukup parah!”
Lumiere: “Apa? Sayapku terluka?!”
Selama ini Lumiere tidak menyadari bahwa sayapnya telah terluka akibat runcingan batu tersebut.
Lou: “KAU INI YANG BENAR SAJA-”
*WHOOSHH!!
*BUGGG!!!
Obrolan Lumiere dan Lou terhentikan karena bebatuan mulai mengenai wilayah Lou dan Lumiere. Mereka segera berpencar untuk mencari batu perlindungan. Sementara Lumiere masih harus berlindung untuk mencegah pendarahan dari sayapnya.
Lumiere: “Sial!
Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya!!”
Seorang murid melontarkan serangan es pada monster itu. Tubuh monster itu cedera akibat sebuah serangan dari es hitam. Kakinya juga telah ditahan. Membuat pertahanan miliknya melemah.
Para murid tampaknya menggunakan kesempatan itu untuk menyerang sang monster.
“INI KESEMPATAN KITA! SERANG!!”
Para murid menyerang monster itu dengan sekuat tenaga.
Monster itu berteriak dengan kencang sampai memekakkan gendang telinga orang yang mendengarnya.
"BERANI-BERANINYA KALIAN MENYENTUHKU!!!"
Lumiere: “Haha! Bagus sekali!! Dengan begini kita bisa menang!!”
Namun kebanggaan itu tak berlangsung lama. Monster itu mulai menyerang balik. Monster itu membuat gravitasi yang ada di tempat dungeon itu seakan menarik mereka agak menetap di darat.
"RASAKAN PEMBALIKAN INI!!"
Monster itu menghempaskan seluruh sihir miliknya dan menghancurkan darat.
Monster itu dengan segera melepaskan diri dari cengkraman dan menghindari serangan para murid. Kini murid yang tampak mendekat segera diserangnya tanpa ampun.
Monster itu mengangkat beberapa batu tajam dan menghancurkannya menjadi partikel kecil sebelum melemparkannya. Para murid yang tidak siap dengan serangan itu, mengalami cedera yang cukup parah.
Monster tersebut menarik gravitasi di Dungeon, membuat para murid tak dapat bergerak dan tidak bisa mengontrol diri mereka.
Lumiere yang sayapnya mengalami luka ringan kini mendapati luka yang parah akibat serangan monster itu.
Para murid kini mengalami kondisi sekarat. Mereka mendapat luka dan cedera yang parah. Beberapa dari mereka mulai berputus asa dan pasrah dengan keadaan. Sebagian juga mulai teringat dengan hal yang membuat mereka trauma.
Kepercayaan mereka terhadap DianXy pun memudar. Kini mereka berpikir bahwa DianXy hanyalah semacam organisasi yang sengaja membunuh mereka hidup-hidup.
Lalu, hal yang tak terduga pun terjadi.
“Di sini.”
“Jadi itu monster terakhirnya?”
“Itu…itu para Mentor?!”
Serentak para murid.
Mereka tidak percaya bahwa sekarang para Mentor bisa berada di Dungeon ini. Rasa putus asa mereka perlahan mulai memudar. Mereka sangat berharap akan diselamatkan oleh para Mentor.
“Mereka datang untuk menyelamatkan kita, kan?!”
Monster itu terkejut dengan ketibaan tiga makhluk yang tiba-tiba saja ada di atas kepalanya. Ia berusaha meraih mereka yang masih ada di tubuhnya.
Ia Menggeram marah. Berusaha menangkap makhluk yang telah mengganggunya tersebut.
Mentor Luisa: “Kalian baik-baik saja?! Yang terluka, boleh minggir terlebih dahulu!!” Perintahnya.
Mentor Kaynel membuat shield hologram untuk melindungi para murid yang terluka.
Mentor Kaynel: “Yang terluka sebaiknya kalian mundur!!”
Lumiere: “Bagaimana bisa para Mentor berada di sini?! Aku pikir mereka sengaja membiarkan kita mati hidup-hidup di Dungeon penuh dosa ini.”
Lou: “Kya! Kita diselamatkan para mentor!!”
Lumiere: “Kak Lou?! Wajahmu kenapa?!!”
Lou: “Enggak apa-apa, kok! Aku cuman gak sengaja kena runcingan batu dari monster tampan itu!”
Lumiere: “SADARLAH! Kita ini lagi dalam kondisi sekarat, tahu!!”
Lou: “Iyah-iyah!”
Lumiere sadar bahwa ia masih memiliki cukup energi untuk membantu para Mentor. Ia mulai beranjak dan bergegas menggunakan panahnya. Diikuti oleh beberapa murid yang masih bisa bertahan. Mereka bersama-sama menyerang monster itu.
Unknown: “DASAR HAMA MENYEBALKAN. MATILAH!*
Monster itu tampaknya mulai semakin geram. Dia menghentakkan tangannya ke lantai hingga angin besar membuat mereka semua terpental jatuh.
Serangan dari para Mentor dan murid tidak berkesan pada serangan balik monster itu.
Seluruh bebatuan yang ada di sana ditarik, dikumpulkan menjadi satu dan dipentalkan kepada para mentor yang berusaha mengevakuasi para murid yang terluka.
Mentor Luisa: “Semuanya berlindung cepat!!!”
Mentor Kaynel mulai menguatkan dinding hologram untuk yang terluka. Untungnya dinding hologram tersebut tidak bisa ditembus oleh bebatuan.
Lumiere membuat serangan cahaya yang membuat pandangan monster tersebut tidak terkontrol. Kesempatan itu diambil oleh para murid dan para Mentor. Mereka menyerang monster itu secara bertubi-tubi.
Lumiere: “Makan tuh makhluk dosa!!”
Para mentor mencari titik lemah dari monster tersebut. Mereka menemukan bahwa kelemahan monster itu ada di dada yang ditutupi oleh armornya.
Para mentor memerintahkan murid untuk menusuk jantung monster itu.
“SEMUANYA, TUSUK JANTUNGNYA. MAKA SEMUA AKAN SELESAI!!”
Serangan dari para murid dan mentor membuat pertahanannya cukup mengurang. Sang monster kembali menyerang murid dengan mencakar mereka menggunakan satu tangannya yang masih bisa digerakkan.
Para mentor dan murid tidak kenal lelah. Mereka terus melawan monster itu tanpa ampun.
Monster itu berteriak marah. Serangan demi serangan membuatnya semakin melemah. Untuk mempertahankan dirinya, ia membuat pasukan. Monster itu menghidupkan para mayat yang telah lama menjadi gumpalan tulang tak berharga.
Mayat hidup itu mulai menyerang para murid habis-habisan. Seolah tidak memberi ampun. Sementara sang monster tampak ingin bernafas untuk sekedar memulihkan tenaga.
Lou: “MENGERIKAN!”
Lumiere: “APA?! SEHARUSNYA JIWA MEREKA HARUS SUDAH BERADA DI DUNIA ROH!!” ucap kesal Lumiere.
“Jangan takut! Kita bisa mengalahkan mayat-mayat itu beserta monsternya juga!!”
Para murid dan mentor bekerja sama untuk memusnahkan pasukan tersebut besertakan bosnya. Akhirnya. Serangan demi serangan yang dilontarkan oleh para mentor dan bantuan dari para murid mulai membuat monster dan pasukannya
melemah dan tak berdaya.
Lumiere: “Yuhu!! Kemenangan berada di pihak kita!!”
“Rasakan itu, makhluk jelek!!”
Mereka mulai menselebrasikan kemenangan dan penderitaan mereka yang telah usai.
Setelah akhirnya sang bos terakhir telah kalah. Semua pun bernapas lega. Sang monster itupun akhirnya tewas di tangan para mentor. Para murid hanya bisa bersyukur atas kedatangan dan bantuan mereka.
Selang beberapa waktu, muncul sebuah portal berwarna biru tua yang akan menjadi pintu keluar mereka dari Dungeon ini. Semua murid berjalan untuk memasuki portal tersebut.
Beberapa dari mereka membantu teman-teman mereka yang sekarat.
Lumiere: “Huh! Sayapku mengalami cedera yang cukup parah. Kayaknya aku harus menghabiskan waktuku di dalam asrama aja.”
Lou: “Yah, semoga sayapmu lekas sembuh. Yang terpenting kita sudah bebas dari penderitaan ini.”
Para mentor membimbing mereka untuk masuk dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Ayo cepat, portal akan segera menutup.”
Ada yang terluka parah, bahkan tidak sadarkan diri. Mereka saling bahu membahu untuk keluar dari tempat mengerikan itu.
Para murid berharap bahwa mereka diizinkan untuk beristirahat setelah mengalami penderitaan ini.
Mereka semua telah masuk ke dalam portal dan mulai menenangkan diri mereka masing-masing.
Portal ditutup.
‘End’