Isi Cerita
Naretta Ohiro

--| 🪶

 

Dengan luka-luka yang ada di sekujur tubuh dan rasa lelah yang menghinggap lara. Dikala kami berhasil mengalahkan Cerberus, Naga api dan juga Manticore semuanya berusaha saling menopang dan menguatkan. Aku melangkahkan kaki ku lagi untuk kembali menyusuri gua gelap ini sembari bersiap akan serangan yang akan datang.

Sejenak aku menatap ke belakang dan melihat sedikit siluet buram, lalu kembali berjalan mengikuti teman-teman yang lain. Sesekali mengira-ngira apakah hari sudah berganti menjadi malam.

Aku teralihkan sesaat untuk menatap seseorang yang berkata bahwa para mentor tidak menjawab panggilannya. Aku bergumam pada diriku setelah mendengar hal itu, "Oh, terdengar buruk, seharusnya tetap baik-baik saja, ku harap."

Perjalanan kali ini agak panjang. Banyak teman-teman yang saling menghibur dan mengobrol untuk meredakan rasa sakit dan takut.

Sesekali aku memegang bagian pinggang ku yang sakit akibat pertempuran sebelumnya, "Di usia segini berkelahi dengan sakit pinggang, aduh." Keluh ku sambil menghela napas.

Melihat teman-teman yang lain saling mengkhawatirkan satu sama lain, aku tersenyum kecil. Namun, obrolan mereka berakhir karena terdengar suara yang begitu kuat dari balik pintu raksasa yang terukir dengan simbol-simbol kuno. Aku tersentak dan langsung memasang posisi bersiap, begitu juga yang lain.

Rasa takut mulai menjalar di tubuh ku ketika pintu raksasa mulai terbuka dan mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat. Hal ini benar-benar berdampak besar bagi kami semua.

Jangan menyerah, kita masih harus hidup!”

Aku tercekat setelah mendengar kalimat itu, pertahanan ku sebelumnya sedikit goyah. Seolah ada yang sedang menekan paru-paru dan mencekik hingga aku merasa sesak.

Maksudku, bagaimana kita harus membunuhnya?”

Sebuah pertanyaan yang bagus pikir ku.

Tanah bergetar ketika pintu itu terbuka hingga membuat stalaktit berjatuhan dari langit-langit gua. Dari dalam sana muncullah makhluk mengerikan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Aku melihat aura membunuh yang sangat kental, menguar hingga jantung ku berdetak begitu kencang. Manik merah itu menyipit, menatap penuh intimidasi dan kecaman. Sedang kedua manik hijau itu menatap seolah kami adalah santapan terlezat yang pernah ia makan.

Makhluk itu berkepala dua dengan satu badan, perbedaan ras lah yang menjadi ciri bahwa mereka berbeda. Aku sedikit mengira-ngira apakah mereka memiliki pemikiran yang sama, atau justru sebaliknya. Lantas, mereka bersuara hingga menggetarkan satu dungeon ini.

"Jenis monster terbaru apa ini?", aku sedikit memundurkan tubuhku secara naluriah.

"WAH WAH~ LIHATLAH SIAPA MAKHLUK RENDAHAN YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI SINI!!" Salah satu monster berkepala ular mulai berbicara dengan di iringi oleh kekehan sinisnya.

"Oh mereka bisa bicara, eh tapi baru yang berkepala ular yang berbicara, jadi belum bisa di sebut mereka ya? Hmmm", aku bergumam sendiri tanpa sadar.

Tiba-tiba monter lainnya yang berkepala naga menggeram marah. "Apa yang kalian lakukan di sini, para makhluk menjijikkan. Berani-beraninya menginjakkan kaki di wilayah ku!"

Aku kembali pada kesadaran ku, dan memundurkan tubuhku karena merasakan intimidasi dari monster itu.

Monster berkepala ular menatap kami dengan pupil ularnya dan perlahan mengubah kami secara perlahan menjadi batu karena kekuatan nya, "HANCURLAH KALIAN HAHAHA!!!"

Setelah menyadari kekuatan nya aku mencoba untuk tidak melihat mata nya. "Ah, ini akan merepotkan."

Monster itu geram melihat tanggapan dari kami. Lantas saja, teman-teman ku yang menatap mata dari keempat manik itu segera berubah menjadi batu. Bahkan tanpa mengalihkan tubuhnya dari tempat asalnya, ia berhasil membuat teman-teman ku yang telah berubah menjadi batu itu menyerang satu sama lain.

Aku mendengar suara batu yang bergerak dan sedikit mengintip namun masih tidak menatap mata monster berkepala ular itu. "Kekuatannya sungguh menyusahkan."

Tiba-tiba, monter berkepala naga mengendalikan batu yang ada di sekitarnya, "Akan kuhancurkan kalian yang telah berani memasuki tempat ini."

Aku berusaha menghindari serangan batu dari salah satu monster.

Dan monster berkepala naga mulai mengangkat tangannya dan menerbangkan batu yang berada di dalam ruangan Dungeon itu kemudian membuatnya menjadi runcing dan mengarahkannya ke arah kami.

"MELEBURLAH DENGAN BUMI KALIAN SEMUA YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI SINI!!!"

Tiba-tiba salah seorang monster lainnya tampak memiliki sebuah rencana yang brilliant, "UNKNOWN 1 ARAHKAN SIHIRNYA KEMBALI!!! AKU AKAN MEMBUAT MEREKA MENJADI BATU."

Monster berkepala ular juga membuat rune sihir yang mengitari lantai aktif dan perlahan kaki kami menjadi batu.

Monster itu mengamuk. Menyerang kami semua dengan brutal. Tampaknya, meskipun berbeda kepala, mereka memiliki kerja sama yang baik.

"Ah, mereka rupanya kompak dan memiliki pemikiran yang sama. Yaitu membunuh kami." Aku menyimpulkan jawaban atas pertanyaan ku saat pertama kali melihat mereka.

Bebatuan runcing diarahkan pada kami. Tanah berguncang hebat bagai terjadi gempa, stalaktit berjatuhan dari atas goa.

Teman-teman ku yang terkena serangan dengan cepat mengalami luka fatal. Ditambah yang saat ini berubah menjadi batu, perlahan monster itu menyerang tanpa ampun.

"U-ughh... Ayolah... Aku sendiri belum selesai dengan luka perut ku..." Ucap salah satu teman ku yang sedang mencoba menahan rasa sakit, kemudian berusaha untuk terbangun namun gagal. "Awh..." Ringisnya pelan.

Aku menoleh ke arah nya dengan raut wajah khawatir. "Kau baik baik saja?" Aku mendekatinya namun berusaha tetap tidak melihat ke arah monster itu.

"A-ah.. Aku baik," Ucap salah satu teman ku yang sebelumnya.

Monster berkepala naga mulai memperluas domain miliknya sehingga secara perlahan kaki kami mulai mengalami cedera. "MATILAH KALIAN MATI!!"

Tubuh monster itu cedera akibat serangan dari es hitam. Belum lagi kakinya yang ditahan, membuatnya tidak pertahanan miliknya melemah.

Yang lain tampaknya menggunakan kesempatan itu untuk menyerang sang monster.

Monster lainnya yang berkepala ular mulai berteriak dengan kencang sampai memekakkan gendang telinga orang yang mendengarnya. "BERANI-BERANINYA KALIAN MENYENTUHKU!!!"

Saat aku hendak mengulurkan tangan pada teman ku, tiba-tiba monster itu berteriak dengan nyaringnya belum lagi kaki ku terasa perih akibat perluasan domain monster itu namun itu tidak menghalangi ku, "Akan ku bantu sediki-- ack, suara monster itu terlalu keras, dan benar-benar menyusahkan," Segera aku menutup telinga dengan kedua tangan ku, akibat suara yang di keluarkan oleh monster itu.

"Jangan pedulikan aku, fokuslah ke monster itu terlebih dahulu."

Mendengar nya berkata begitu aku ragu-ragu,namun ini bukan lah waktu untuk merasa ragu, aku mengangguk, "Baiklah, kalau begitu tetap di tempat yang aman."

"Unn.. Baiklah."

Monster itu mulai mengendalikan gravitasi yang ada di tempat dungeon itu seakan menarik mereka agak menetap di darat. Lalu menghempaskan seluruh rune sihir miliknya dan menghancurkan medan darat, dan monster itu terbang sedikit lebih tinggi.

Diangkatnya beberapa batu tajam lantas menghancurkannya menjadi partikel kecil sebelum melesatkannya. Kami yang tidak siap dengan serangan itu, mengalami cedera yang cukup parah.

Monster tersebut menarik gravitasi di dungeon, membuat kami tak dapat bergerak dari tempat.

Aku mencoba untuk menghindar namun tetap mendapat luka akibat serangan batu tajam sebelumnya.

"Ack. Benar-benar menyusahkan." Aku lantas mengeluarkan katana ku, bersiap untuk mulai menyerang.

Setelah itu aku melompat dan berhasil memberikan serangan pada monster itu, lalu aku melompat untuk mundur dan terduduk dengan katana yang menopang tubuhku. Tiba-tiba para mentor terjatuh tepat di atas monster yang sedang terbang itu.

Aku menatap pendaratan para mentor dengan terkejut. Aku senang karena akhirnya bala bantuan datang, namun aku juga terkesan karena para mentor dengan berani menjadikan monster itu sebagai pijakan untuk pendaratan nya.

"Wah benar-benar aksi pendaratan para mentor yang keren," Aku berguman pelan.

Monster itu terkejut dengan ketibaan tiga makhluk yang tiba-tiba saja ada di atas kepalanya. Lantas berusaha meraih mereka yang masih ada di tubuhnya.

Ia menggeram marah, berusaha menangkap makhluk yang telah mengganggunya tersebut. "DASAR HAMA MENYEBALKAN. MATILAH!"

Setelah merasa stamina ku pulih walau hanya sedikit, aku berjalan menghampiri seseorang untuk mengajukan diri sebagai relawan. "Ah, saya akan membantu juga."

Seseorang yang ku ajak bicara mengangguk, lalu ia berjalan sebentar kemudian meringis.

Aku dengan panik segera bertanya, "Anda.. Baik-baik saja? Perlu saya bantu obati?"

"Saya hanya menginjak batu, saya akan baik-baik saja."

Mendengar hal itu aku menghela napas lega. Lalu melihat para monster itu tampaknya semakin geram akibat serangan yang bertubi-tubi datang dari para mentor dan teman-teman ku yang lain.

Dia menghentakkan tangannya ke lantai hingga angin besar membuat mereka semua terpental jatuh.

Namun, serangan dari para mentor nampaknya tidak terlalu berkesan untuk sang monster yang tampaknya semakin marah itu.

Seluruh bebatuan yang ada di sana ditarik, dikumpulkan menjadi satu dan dipentalkan kepala para mentor yang berusaha mengevakuasi para murid—teman-teman, sambil tetap fokus menyerang monster itu.

Aku terpental dan menabrak dinding gua akibat serangan monster itu kemudian meringis pelan. "Aduh, sepertinya luka ku semakin bertambah"

Aku berusaha bangun dengan segenap kekuatan ku yang tersisa. Tiba-tiba ada hologram yang melindungi kami dari serangan monster itu, aku menoleh mencari asalnya, "Ah.. Rupanya bantuan mentor."

Aku melihat semua sedang berjuang di luar hologram ini, kemudian menatap ke sekitar ku yang terluka dan sedang di obati disini, di tempat yang di lindungi oleh hologram.

"Aku.. Terlalu lemah.. Aku tidak banyak membantu, aku tidak berguna.." Aku bergumam pelan pada diriku yang tidak banyak membantu ini.

Namun, aku berharap, agar semuanya selamat dan kami bisa kembali bersama-sama.

Tiba-tiba aku melihat monster itu mulai melemah dan instingnya mulai melambat.  Aku tersenyum, "Semuanya benar-benar hebat dan kuat. Aku juga harus menjadi lebih kuat lagi."

Serangan dari yang lain dan mentor tampaknya cukup fatal bagi sang monster hingga pertahanannya cukup mengurang. Sang monster kembali menyerang dengan mencakar mereka menggunakan satu tangannya yang masih bisa digerakkan.

Monster itu berteriak marah. Serangan demi serangan membuatnya kian melemah. Lantas, untuk mempertahankan dirinya, ia membuat pasukan. Menghidupkan para mayat yang telah lama menjadi gumpalan tulang tak berharga.

Mayat hidup itu mulai menyerang yang lain dengan habis-habisan. Seolah tidak memberi ampun. Sedangkan sang monster terlihat ingin memulihkan tenaga nya.

Aku memutuskan untuk membantu dan keluar dari hologram kemudian menebas monster itu, "Uh. Kulit nya memang benar-benar keras," Aku sedikit berdecak karena meski monster itu sudah melemah, ia masih cukup tangguh.

Semua nya melakukan yang terbaik dan berhasil menembus pertahanan sang monster hingga monster itu tumbang.

Setelah akhirnya sang bos terakhir telah kalah. Kami pun bernapas lega. Sang monster yang memiliki kekuatan mengerikan itu pun akhirnya tewas di tangan para mentor. Kami—para murid hanya bisa bersyukur atas kedatangan mentor-mentor.

Lalu muncul sebuah portal berwarna biru tua yang akan menjadi pintu keluar mereka dari dungeon ini. Aku menoleh, kemudian aku berjalan untuk memasuki portal itu dengan sedikit tertatih, begitu juga yang lain.

Para mentor membimbing kami untuk masuk dan memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Ayo cepat, portal akan segera menutup.”

Mentor menginstruksikan untuk segera masuk menuju portal. Sejenak aku menatap sekitar ku, dan menghela napas, banyak di antara teman-teman ku yang terluka parah, bahkan tidak sadarkan diri.

Aku berharap bahwa kami bisa mendapatkan izin untuk beristirahat setelah mengalami semua hal ini. Meski aku tahu bahwa musuh tidak akan membiarkan kami beristirahat. Aku lalu mengepalkan tanganku, "aku akan semakin kuat, sehingga tidak ada lagi yang akan ku sesali." Aku memantapkan hati, kemudian menatap ke depan dan tidak kembali menatap ke belakang, ke arah para siluet buram itu.

Sebuah pertanyaan terbesit dengan cepat di pikiran ku 'Apa artinya, ketua sedang memberi kami sebuah pelajaran yang penting?'

Entahlah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Hanya saja, aku bersyukur karena hari ini masih hidup.

 

--| bzztt