Isi Cerita
Regina Hocimida

Regina.

 

Di dalam goa gelap. Para murid DianXy berjalan menjelajahi goa yang gelap setelah selesai berurusan dengan penjaga goa yang sebelumnya. Regina berjalan di belakang para murid. Bukan,dia tidak di sudutkan tapi dia yang menyudutkan diri.

 

Regina berjalan di belakang sambil memegangi lukanya yang ada di pinggang. Dia ingin mengatakan apa yang dia rasa,namun dia tak mau mengganggu obrolan yang lain. Jadi dia memilih diam sambil menahan rasa sakitnya.

 

Regina terus berjalan di belakang rombongan para murid. Beberapa kali dia meringis saat lukanya tertekan tangannya sendiri.

 

ayolah untuk apa aku....oh iya aku murid ‘

 

Pikir Regina yang sedari tadi diam tanpa ada yang sadar akan dirinya. Dia semakin yakin kalau selama ini dia hantu di antara semua murid. Regina hanya menghela nafas kecil,dan mencari bantu untuk dia jadikan teman mainnya.

 

Sampai seekor burung burung hantu(?) berbulu putih salju terbang menghampiri nya. Regina menoleh menatap burung itu.

 

hmm..?Hallo..?”

 

Burung itu hanya mengeluarkan suara burung yang tentunya tidak dipahami Regina. Burung itu terbang dan hinggap di batu yang sedari tadi Regina mainkan. Regina tak mengerti jelas,tapi mungkin dia ingin bermain.

 

Apa nona Enna tidak masalah jika kamu pergi Nxy?”

 

Regina bertanya sambil mengoper batu yang langsung dioper balik oleh burung itu atau Nxy.

 

“Hoot hoot!”

 

Regina anggap itu tidak. Dia bermain dengan Nxy sambil berjalan menyusuri goa. Hingga mereka sampai di depan sebuah pintu besar dengan ukiran simbol kuno pada dinding pintunya.

 

Terdengar suara keras dari dalam pintu dan pintu itu mulai terbuka. Regina menatap pintu besar itu dengan perasaan was was. Melihat keadaan mulai berbahaya,Regina meminta Nxy kembali ke Sienna.

 

Saat pintu terbuka,aura yang membunuh terasa begitu kuat dari dalam sana. Regina tau akan terjadi hal itu,dia menyiapkan katana nya dan berjalan masuk bersama yang lain.

 

Dari dalam,terlihat sesosok monster dengan tinggi kira-kira 30m atau mungkin lebih(?),dengan sayap naga yang membentang,buntut ular dan dua kepala dengan perbedaan ras.

 

Regina meneguk kasar ludahnya saat melihat tinggi monster dan perwujudan nya yang amat mengerikan. Tanah di goa pun bergetar saat monster itu tertawa.

 

“WAH WAH LIHATLAH MAHLUK-MAHLUK RRENDAHAN YANG BERANI MASUK KE DALAM SINI.”

 

Ucap yang berkepala ular. Suaranya yang begitu keras,membuat gendang telinga Regina sakit. Membuatnya mundur beberapa langkah untuk meredakan suaranya dari telinganya,walau tak ada gunanya..

 

Kepala ular itu menatap para murid dengan mata ularnya. Regina tau artinya itu,dia segera mengalihkan pandangannya sambil menutup wajahnya. Dia melihat beberapa murid yang terkena dampak dari melihat mata ular itu. Tubuh mereka menjadi batu dan mulai menyerang satu sama lain.

 

Belum selesai dengan mata ular itu. Sebuah bebatuan besar dengan ujung yang amat runcing melesat dan hancur tepat di samping Regina. Regina yang kaget melompat kearah samping yang sialnya dia malah terkena batuan yang dilempar monster itu.

 

“Ahh-!”

 

Regina terpental cukup jauh,untungnya dia tak mengalami luka yang fatal,hanya saja ada baru yang menusuk di luka nya yang sebelumnya. Regina meringis menatap baru di lukanya. Monster itu terus menyerang dengan bebatuan yang runcing. Secara mau tak mau Regina terus mengelak sambil berusaha mengambil kembali katana nya.

 

Dapat kau”

 

Regina bersiap dengan katana nya,mengabaikan sakit pada pinggang nya dan melesat menghancurkan bebatuan yang mendekat. Monster itu mulai menyerang dengan cepat dan brutal,membuat Regina kewalahan.

 

Monster semakin mengamuk,kerjasama dua kepala itu benar-benar membuat Regina mati-matian mempertahankan diri. Sampai saat kakinya mulai membatu.

 

“A-apa yang-? T-tidak tidakjangan sekarang

 

Kaki Regina tak dapat dia digerakkan,saat mencoba menghancurkan batu agar dapat bergerak,Regina malah terkena serangan bertubi-tubi yang malah membuatnya terpental ke dinding dungeon dan terluka di bagian kepala juga perutnya.

 

“Ahh!! A-awh..

 

Regina berusaha untuk bangkit namun gagal,membuatnya mulai putus asa akan hidup nya sendiri,sedangkan monster semakin mengamuk saat para murid berhasil melemahkan nya.

 

ayolah..aku belum selesai dengan luka khu-”

 

hey kau baik baik saja

 

Regina langsung menoleh ke arah sumber suara,rupanya itu Naretta yang kelihatan nya menyadari Regina yang mengalami luka yang fatal. Saat dia ingin membantu monster itu malah makin mengamuk, mengeluarkan suara yang bisa saja membuat gendang telinga hancur.

 

“Ack-!Monster itu berisik!”

 

Regina anggap itu benar,karena telinga nya yang sensitif sekarang berdarah semakin parah. Regina melihat keadaan yang semakin memburuk.

 

Hey,abaikan saja aku,fokuslah dengan monster itu..”

 

Ucap Regina pada Naretta,yang dia jawab angukkan dan pergi membantu yang lain. Sedangkan Regina sendiri mencari tempat yang aman. Dia menemukan tempat yang setidaknya lebih aman dari tempat sebelumnya.

 

Regina menggigit sarung katana nya dan mengambil nafas panjang,perlahan dia mengeluarkan batu yang tertancap di pinggang dan perutnya. Setelah batu itu terlepas,Regina melepas pita yang dia pakai di rambutnya dan melilitkan nya pada luka di perutnya. Walaupun itu hanya dapat menutupi luka di perutnya. Setidaknya ada luka yang tertutup.

 

Regina perlahan bangkit,namun badannya langsung tidak bisa bergerak karena monster itu menarik gravitasi dungeon. Regina meringis,meratapi nasibnya yang mungkin pulang hanya nama.

 

Namun dia tak mau jika hanya meratapi nasibnya. Dia berusaha sebisa mungkin melawan gravitasi yang menahannya dan bersiap untuk kembali melawan sampai..

 

Aaaaaaaaaa

 

“Hah apa yang..

 

Regina melihat dari atas kepala monster,terlihat segerombolan orang yang mendarat di kepala monster itu. Regina menyipitkan matanya untuk melihat siapa itu. Dan ternyata itu adalah para mentor yang datang.

 

Naren?”

 

Regina menatap 3 mentor yang ada di atas kepala monster dengan tatapan kaget,juga bingung. Naren melihat Regina yang terluka pun bertanya.

 

Regii!!oke kah?kalau oke ayo kita bertarung bersama!”

 

Ucap Naren yang dijawab anggukan oleh Regina. Dia bangun dan bersiap dengan katana di genggaman nya,mengabaikan rasa sakitnya. Naren turun dan menyiapkan pukulannya untuk menyerang,sedangkan Regina siap dengan serangan katana nya.

 

Regina melesat menyerangmenyerang bebatuan yang dilempar ke arah Naren untuk kemudian dilempar Naren ke arah perut monster. Para murid lain juga menyerang dengan bantuan dari para mentor yang datang. Regina melesat ke arah Naren dan mendarat di samping nya.

 

Naren! Aku ada rencana!”

 

Apa tuh?”

 

“Kita serang mata ular itu,Naren lempar batu aku akan menebasnya ke arah mata monster itu.”

 

Ucap Regina yang langsung dipahami Naren,mereka kembali bekerja sama dengan Naren yang melemparkan batu yang diiringi serangan tebasan milik Regina. Monster semakin lumpuh berkat kerjasama murid dan Mentor. Monster kembali menyerang dengan cakarnya yang tajam.

 

“Regina diam disini aku akan ke belakang monster itu

 

Regina mengangguk paham,dia menghalangi bebatuan yang menyerang ke arah nya. Monster yang semakin melemah akibat terkena serangan,ditambah dengan armor pada dadanya yang hancur kini terlihat mulai rentan akan serangan.

 

Regina!serangan jantungnya!aku akan melemparmu!”

 

Regina mengangguk paham,dia bersiap saat Naren mulai melempar nya ke arah bantu monster. Regina melompat dan mendarat di bahu monster dengan satu tusukan Regina menusuk jantung monster itu,tentu dengan bantuan murid lain yang juga ikut menusuk jantung monster dengan kekuatan mereka bertubi-tubi. Membuat monster semakin mengamuk.

 

Monster itu menghidupkan para Undead atau mayat-mayat yang langsung menyerang para murid. Regina yang baru mendarat di tempat para murid yang sedang di obati pun bersiap menyerang para Undead itu.

 

jangan menyerah…Regina”

.

.

.

.

 

Boss terakhir telah dikalahkan oleh mentor dan murid,mereka bernafas lega dan akhirnya kembali pulang ke markas dengan keadaan yang agak mengerikan. Regina membantu beberapa murid yang cedera.

 

“hey Regina,apa kau baik baik saja?”

 

Ahh.. Aku baik baik saja ko-...”

 

. .brruukkk

 

Dan dia juga harus pergi ke ruang medis untuk berurusan dengan lukanya.

 

-end-