Zean

Zean

Zean merupakan seorang pemuda yang berusaha mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sampai ia terjebak dalam pengejaran kapal angkasa Saaochi dan berakhir menjadi salah satu co-pilot di DianXy. Zean berjanji pada dirinya sendiri agar tidak terlibat terlalu banyak dalam urusan DianXy, kecuali berhubungan dengan pekerjaannya.

Biodata
Pemilik NPC : Saaochi
“Saya beli ini satu.”

Lelaki itu tanpa menunggu jawaban dari si pemilik kedai, pantas mengambil dua bungkus roti dan meletakkan beberapa koin emas di atas tumpukan roti lainnya. Dia berjalan menjauh dari kedai sembari membuka bungkus roti untuk memakannya. Langkahnya terhenti tatkala maniknya mendapati dua anak kecil tengah berusaha menaiki benda bulat asing yang diyakininya sebagai kapal angkasa.

Tanpa mempedulikan hal itu, langkahnya ia bawa menuju tempat lain yang mesti dikunjunginya. Pemuda itu berjalan menyusuri kota yang tak terlalu ramai akan penduduk. Dikarenakan, kota ini katanya baru saja diserang dan kerajaannya habis pulang berperang, jadilah kota ini hampir menjadi kota mati karena tak adanya kepemimpinan yang jelas. Namun, usut punya usut, kerajaan itu kini telah pulang membawa kemenangan dan perluasan wilayah.

Yah, sejujurnya ia tak terlalu peduli. Persetan dengan para maniak kekuasaan itu. Dia ke sini hanya karena ingin melihat pengumuman lulus tidaknya ia dari seleksi pekerjaan yang dia daftar sebulan lalu.

Whoosh.

Pemuda itu tersentak. Sesuatu yang begitu cepat baru saja melewati punggungnya. Saking cepatnya, hingga ia rasakan punggungnya panas bagai terbakar. Dia berbalik hanya untuk menjatuhkan rahangnya ketika mengetahui, kapal angkasa yang dilihatnya tadi sudah melesat laju tak terkendali.

“Nak, kendalikan kapal angkasanya, Nak!”

Ia kaget lagi. Tiba-tiba lelaki bertubuh besar melesat melewatinya, lari begitu cepat, tampak berusaha mengimbangi kecepatan si kapal angkasa.

“Eh, bantuin apa! Malah bengong! Nanti anaknya mati, gimana?!”

Seorang gadis berambut biru toska itu meneriakinya di perempatan jalan. Lantas, berbelok ke jalan kecil di sebelahnya.

“Ck!”

Rasanya dia sudah kepalang bingung antara membantu atau tidak. Sampai kakinya bergerak sendiri membantu mengejar si kapal angkasa. Maniknya berkeliaran mencari hewan apa pun yang berguna untuk dapat membantunya.

Seekor kuda yang diikat, nampaknya ditinggalkan oleh pemiliknya, segera dihampiri olehnya. Dia mengeluarkan pisau saku, dan melukai kuda tersebut hingga dia melolong kesakitan, kakinya menghentak hendak lari, namun terhalang ikatan kuat di leher. Darah yang menempel pada pisau, dijilatnya hingga habis. Lantas, ia kembali berlar, mengejar si kapal angkasa.
Namun, kali ini lariannya secepat kuda, bahkan melampaui lelaki bertubuh besar yang sedari tadi sudah mengejar kapal angkasa itu.

“Aaaaa, tolong aku, Om ...!”
Wah, hampir saja lupa, ada seorang anak kecil terjebak. Dia hampir saja bisa menggapainya, namun tangannya melesat, kakinya hampir saja terpeleset. Beruntung keseimbangannya cukup baik. Tiba-tiba, di depan sana, si gadis berambut aneh tadi sudah menghadang. Seolah ingin menghentikannya dengan tangan kosong.
‘Wah, gadis gila.’

Dia dengan panik mempercepat kecepatannya meski sudah diambang batas. Kapal angkasa itu sebentar lagi akan menabrak si gadis itu. Jantungnya berdetak teramat kencang. Maniknya melebar tatkala tangannya berhasil mengait pada celah pintu. Saat itu juga dia sadari kalau kecepatan kapal angkasa sedikit melambat.

Dia menoleh ke belakang, mendapat lelaki yang tadi menahannya dengan tali yang entah sejak kapan terikat di belakang kapal angkasa. Sedangkan, di depannya ada si gadis tadi yang turut berusaha menekan si kapal angkasa.

“Cepat matikan kapalnya!”

Dia segera masuk ke dalam kapal angkasa itu, menggeser si anak kecil yang ternyata malah santai minum es. Jantungnya berdetak kencang, menekan tiap tombol agar bisa mematikan benda ini.

Syukurlah, tidak sia-sia dulu dia sempat jadi driver online antar planet, jadi kapal angkasa seperti sudah cukup lihai baginya.

“Huh, terima kasih.”

Gadis itu mengelap keringatnya. Dia bernapas berat. Begitu pula dengan laki-laki tadi yang menyusul.

“Terima kasih banyak. Oh, ya. Siapa namamu?”

“Anda bisa memanggil saya, Zean.”

“Ba—“

“Tidaaakk!” teriak gadis tadi, histeris melihat kapal angkasanya malah rusak.

“Masih bisa diperbaiki kok, Nona Saaochi.”

“Diam! Aku sedang sibuk menangis.”

Zean diam. Lelaki tadi juga diam. Saling menatap dengan pandangan aneh. Tidak tahu hendak berbuat apa.

=••=

“Terima kasih, Eizra. Sudah memperbaikinya.”

“Santai saja, Nona Saaochi.”

Saaochi berbalik pada Zean, yang ternyata sudah kembali setelah pergi lagi tadinya.

“Nah, bagaimana? Dengan tawaranku tadi.”

Yah, Zean memang ditawari pekerjaan setelah dia bilang, akan membantu dengan kapal angkasa miliknya. Dia sempat di interogasi, apakah dia bisa mengendarai kapal angkasa, meski sebenarnya itu sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Mantan driver antar galaksi, masalahnya. Tapi, yang Zean ragu, adalah tempatnya. Meski, sepertinya tak akan ada masalah sama sekali.
“Baiklah. Aku setuju. Pekerjaannya jelas, ‘kan?”

“Ya, jelaslah! Kita kembali pakai kapal angkasaku saja. Kau yang mengendarainya. Bisa gawat kalau aku.”

Zean mengangguk pelan. Toh, tidak ada ruginya. Lagi pula kapal angkasa miliknya itu memang sudah tua, sudah cocok jadi rongsokan. Dia dapat pekerjaan dan itu saja sudah cukup.

=••=
Zean