Kai Lee

Kai Lee

Kai adalah dokter berkenegaraan Chinese yang rajin beribadah dan murah senyum. Laki-laki berusia 22 tahun ini menggunakan doa untuk menyembuhka luka parah yang diderita pasien. Meski buta, itu tidak menghalanginya menjadi orang yang disiplin dan taat.

Biodata
Pemilik NPC : Rhino La Cheiros
Manik hitamnya melihat para orang-orang kuil itu melakukan ritual untuk menghormati Tuhan. Mereka sangat bersungguh-sungguh dan fokus dengan tiap gerakan mereka. Yang bocah itu tahu, itu adalah cara para manusia menghormati Tuhan.



Orang-orang di desanya adalah penduduk yang tinggal di daerah pegunungan, cukup jauh dari pemukiman perkotaan. Sehingga para penduduk ini pun tidak mengerti akan adanya teknologi.



Mereka lebih memilih untuk menyatu dengan alam agar bisa lebih beriman kepada Tuhan mereka. Tuhan mereka yang disembah melalui doa di kuil ibadah.



“Kai, kamu tahu apa yang sangat disukai Tuhan?” Seorang perempuan yang lebih tua, bertanya padanya. Kai menggeleng, tidak mengerti dengan maksud ucapan tersebut.



Ia melanjutkan ucapannya. “Manusia yang beriman.” Perempuan itu kemudian menatap manik hitam bocah berusia lima tahun itu dengan tatapan kosong. “Tuhan sangat mencintai manusia yang beriman.”



.



.



.



Kai tidak pernah tahu bahwa dirinya justru akan menjadi persembahan untuk Tuhan. Kai tidak pernah tahu bahwa setiap persembahan membutuhkan seseorang yang beriman.



Kai tidak pernah tahu bahwa dirinya beriman.

Para biksu itu rela mati demi Tuhan. Mengorbankan diri mereka demi Tuhan. Padahal, Tuhan tidak pernah meminta pengorbanan nyawa kepada manusia.



“Apakah Tuhan itu benar-benar mencintai manusia yang beriman?”



Kenyataan yang akan menimpa Kai karena kepolosannya. Menariknya jauh dalam kegelapan di dalam laut. Arus yang mendorongnya untuk terus tenggelam, dan tidak bisa kembali lagi ke dasar laut.



“Kamu harus beriman, Kai.”



Dan ketika air laut yang asin itu terteguk masuk ke dalam kerongkongan. Maka tak ada lagi harapan yang bisa raih.



Semuanya sudah jatuh.



Jatuh tenggelam ke dalam laut dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menggapai tangan itu.



.



.



.



Matanya ditutup dengan kain putih. Darah merembes, memberi noda pada penutup mata. Bahkan saat terdengar akan ditutup dan hanya memberi kegelapan. Ia sudah lebih dulu dibuat akan melihat kegelapan seumur hidupnya.



Kai, kini buta. Matanya dipersembahkan untuk Tuhan. Ia diberikan amanat untuk menjadi anak yang beriman dan suci.



Tangisnya tak lagi mengeluarkan air mata. Suaranya tak lagi berteriak untuk memohon. Ia sudah jauh tenggelam dalam laut.



Ia duduk bersimpuh menghadap pahatan patung Tuhan yang berwarna emas. Kedua tangannya menyatu. Ia menundukkan sedikit kepalanya untuk memberi penghormatan kepada Tuhan.



“Tuhan, jika aku mampu beriman kepadamu. Bisakah kau memberiku seseorang yang berani masuk ke dalam laut untuk menyelamatkanku?”



.



.



.



Beberapa tahun berlalu dan usia Kai sudah tujuh belas tahun. Masa kecil hingga remajanya digunakan untuk rajin beribadah kepada Tuhan. Dari terbit matahari hingga matahari tenggelam kembali, ia akan ada di kuil. Untuk berdoa dan beribadah kepada Tuhan.



Hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk Tuhan.



Kai tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar kehendak Tuhan. Ia tidak pernah berbicara dengan kasar. Tutur bahasanya lembut. Senyumnya teduh. Uluran tangannya terasa hangat. Dan ia tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis.



Penduduk menganggap bahwa Kai adalah berkah dari Tuhan. Pemuda baik hati dan dicintai oleh semua orang. Serta sosok yang sangat mencintai Tuhan.



Kai pasti adalah persembahan yang selama ini diinginkan oleh Tuhan, begitu pikir mereka.



.



.



.



Teriakan melengking itu terdengar dimana-mana. Seluruh penduduk sibuk menyelamatkan diri. Rumah-rumah penduduk diserang dan dihancurkan oleh monster siluman naga raksasa yang tinggal di gunung.



Sementara itu Kai hanya diam saja di dalam kuil. Duduk bersimpuh. Telapak kakinya berdarah karena sempat ditabrak dan menginjak duri. Biarpun orang-orang disana terus berusaha hidup. Dan meminta Kai berdoa kepada Tuhan agar menyelamatkan mereka. Kai tidak melakukannya, entah kenapa Kai tidak mau berdoa.



Bahkan ketika seluruh penduduk sudah habis, tewas oleh serangan hewan itu. Dan suara geraman monster ada di belakang kepala, siap untuk melahapnya. Kai tidak melakukan apa-apa.



“AWAAAAAAAS!!”



Seseorang datang dan menebas kepala monster itu dengan sekali serangan. Pedang besarnya penuh dengan darah, dan pedang itu berubah menjadi dua buah dadu berwarna putih.



“Pasti dia bos terakhir, ternyata siluman ular gunung itu lemah hahaha!”

Kai menggerakkan kepalanya, menghadap orang asing itu. Ia berbicara bahasa asing, dan Kai tidak mengerti apa artinya.



“Oh, kau! Ternyata ada yang hidup.” Orang itu menghampiri Kai. Berbicara dengan bahasa asing dimana Kai sama sekali tidak bisa mengerti.



“Maaf, aku tidak mengerti.”



“Oh, ekhem! Pakai bahasa chinese ya. Baiklah, apa kau baik-baik saja?” orang asing itu mengubah bahasanya. “Namaku Da-Hee, aku dari Korea Selatan.”



“Aku … Kai Lee.”



.



.



.



Setelah terjadi beberapa pembicaraan dan hal lainnya. Kai mengikuti Da-Hee dalam petualangan. Da-Hee berpetualang ke seluruh negara dan tiap sudut tempat untuk melawan monster dan menjual bagian tubuh monster tersebut ke tiap tempat lelang yang ada.



Kai memotong rambutnya yang panjang itu karena Da-Hee gerah melihatnya.



Meski Da-Hee tahu bahwa Kai memiliki kekuatan doa yang ditukar dengan pengorbanan. Da-Hee tidak pernah meminta Kai untuk berdoa untuk membantunya. Da-Hee selalu bisa menyelesaikan pertarungannya sendiri.



“Jangan pernah berdoa untukku, kau paham? Aku tidak suka bergantung pada Tuhan. Aku adalah orang yang sangat beruntung.”



Hingga mereka akhirnya berdua datang ke sebuah kawah kabut untuk mengejar monster yang sangat kuat. Namun sayangnya, Da-Hee tumbang dan terluka parah. Monster itu tidak mati meski sudah ditebas berkali-kali. Dadu Da-Hee sudah tidak bisa digunakan lagi.



Da-Hee sekarat. Dan monster tersebut berlari ke mereka.



“Jangan pernah berdoa untukku, kau paham? Aku tidak suka bergantung pada Tuhan. Aku adalah orang yang sangat beruntung.”



Janji adalah janji. Namun, mereka tidak boleh mati disini.



Kai menyatukan kedua telapak tangannya. Ia berdoa. “Tuhan, berikan aku orang yang sangat kuat untuk menyelamatkan kami dari kawah ini.”



Tuhan, mengabulkan permintaan Kai. Dan Kai tidak mengingkari janjinya.



Suara lolongan penuh rasa sakit dari monster itu membuat Kai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Dalam sekejap, suasana langsung senyap dan sunyi. Terdengar suara seseorang dari atas.



“Sepertinya, kamu habis berdoa kepada Tuhan?” Suara yang lembut dan tenang itu membuat Kai meneguk ludah. “Apakah saya adalah perwujudan dari doamu kepada Tuhan?”



.



.



.



Kai dan Da-Hee selamat dari sana. Dan rupanya, mereka diselamatkan oleh pendiri DianXy yang akhir-akhir ini sedang heboh di kalangan para penghuni galaksi.



Da-Hee begitu antusias. Ia langsung menawarkan diri untuk bergabung, tentu saja Kai ikut. Dan mereka disambut dengan hangat disana. Da-Hee sebagai kapten prajurit militer dan Kai sebagai Dokter.



“Saya tidak ingin terlihat seperti memanfaatkan kamu untuk memakai kekuatan doamu melawan musuh.” Ketua mereka—Rhino—berbicara dengan halus. “Sepertinya doamu bisa digunakan untuk menyelamatkan orang lain, bagaimana menurutmu?”



Kai memberikan senyumnya. Ia bersyukur diberikan orang-orang baik yang tidak memanfaatkan atau memaksanya untuk berdoa. “Terima kasih, Ketua.”



.



.



.



Kai mendengarkan Da-Hee yang sibuk bercerita tentang betapa kagumnya ia berada di tempat ini.



“Setelah kupikirkan, ternyata kamu adalah perwujudan doa ku hari itu.” celetuk Kai. Da-Hee menghentikan celotehnya dan menoleh ke arah Kai dengan tatapan bingung. “Kalau aku tenggelam jauh ke dasar laut, apa kau akan menyelamatkanku, Da-Hee?”



“Tentu saja!” tukas Da-Hee tanpa ragu. “Mau kau tenggelam ke dasar laut atau membeku di atlantis. Aku akan menyelamatkanmu.”



Da-Hee memberikan pukulan kecil ke bahu Kai sambil terkekeh. “Karena kita teman.”



Diam-diam Kai tersenyum.



“Ternyata itu alasannya doa hari itu begitu lama terkabulkan. Tuhan ingin memberikanmu padaku.”



.



.



.



The End

Kai Lee